Masyarakat diharapkan manfaatkan energi surya ramah lingkungan
Elshinta.com, Menyadari penggunaan energi konvensional bahan bakar fosil yang semakin menipis dan tidak bisa diperbarui, SatuWatt Solar Dewata mengajak masyarakat untuk memanfaatkan energi surya yang ramah lingkungan.
.jpg)
Elshinta.com - Menyadari penggunaan energi konvensional bahan bakar fosil yang semakin menipis dan tidak bisa diperbarui, SatuWatt Solar Dewata mengajak masyarakat untuk memanfaatkan energi surya yang ramah lingkungan.
“SatuWatt yang memiliki visi untuk membangun komunitas pengguna sistem PLTS Atap skala perumahan, komersial, dan industri siap berupaya semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Bali melalui penggunaan dan pemanfaatan energi surya yang ramah lingkungan,” kata Handy William selaku GM Satu Watt seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Eko Sulestyono, Jumat (17/3).
Dengan tagline Save Bali Go Solar, SatuWatt melayani beberapa layanan dan juga membantu mempermudah pemanfaatan sistem PLTS Atap.
“Instalasi PLTS Atap di Tamora Square ini merupakan bentuk komitmen kami dalam mendukung bauran energi terbarukan di Indonesia. Dalam hal ini, kami mempercayakan Xurya sebagai partner dalam melakukan proyek instalasi PLTS Atap,” jelasnya.
Menurut Handy, alasan pihaknya memilih Xurya dikarenakan hingga saat ini Xurya memiliki lebih dari 100 proyek instalasi atap di seluruh Indonesia, sehingga diharapkan PLTS Atap yang ada di Tamora Square dapat memiliki kualitas yang baik untuk jangka panjang.
Adapun keuntungan bagi pengguna PLTS, yaitu dapat menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan, mengurangi biaya listrik, investasi jangka panjang yang menguntungkan, dan meningkatkan nilai properti.
Energi matahari merupakan energi terbarukan dan wilayah Indonesia merupakan negara tropis dengan produksi listrik mandiri dan lokal. Dan seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa energi matahari sangat berlimpah di Bali.
Pemanfaatan energi matahari sebagai sumber energi alternatif untuk mengatasi krisis energi, khususnya minyak bumi, sudah terjadi sejak tahun 1970-an dan hal ini mendapat perhatian yang sangat besar dari para pakar di sejumlah negara.
Berbagai teknologi pembuatan sel surya terus diteliti dan dikembangkan dalam rangka upaya penurunan harga produksi sel surya agar mampu bersaing dengan sumber energi lain.
Mengingat rasio elektrifikasi di Indonesia baru mencapai 55-60% dan hampir seluruh daerah yang belum dialiri listrik adalah daerah pedesaan yang jauh dari pusat pembangkit listrik, maka PLTS yang dapat dibangun hampir di semua lokasi merupakan alternatif tepat untuk dikembangkan.